Ditulis oleh Administrator    Rabu, 16 Januari 2008 08:39    PDF Cetak E-mail
Etika Upacara
Tiap-tiap perbuatan itu berdasarkan atas kehendak atau budhi. Jadi apa yang diperbuat orang itu bermula dari kehendak, oleh karena manusia dihadapkan kepada dua pilihan yaitu pilihan pada yang baik dan buruk maka ia harus mempunyai kehendak bebas untuk memilih. Tanpa kebebasan itu orang tidak dapat memilih yang baik. Namun bebaskah manusia sebebas-bebasnya memilih menurut kehendaknya ? Dalam hubungan ini manusia mempunyai kebebasan yang terbatas juga. Yang membatasinya itu adalah norma-norma yang berlaku.
Pada mulanya norma berarti penyiku, suatu perkakas yang dipergunakan oleh tukang kayu untuk mengetahui apakah suatu sudut memang benar-benar siku-siku. Bahkan pembuat perabot rumah tidak akan secara untung-untungan menggergaji sebilah papan, sebelum itu menggambarkan sebuah sudut siku-siku pada papan tersebut. Dengan demikian norma berarti sebuah ukuran yang kemudian dalam hubungan dengan etika berarti pedoman, ukuran atau haluan untuk bertingkah laku. Norma ini timbul karena kita berada bersama orang lain dan lingkungan hidup dan alam.
Etika dalam agama Hindu norma agama yang dijadikan titik tolak berpikir. Demikianlah pola-pola kepercayaan, paham-paham filsafat agama Hindu mempunyai kedudukan yang amat penting dalam etika Hindu. Kepercayaan agama Hindu berpangkal dari kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sanghyang Widhi Wasa yang berada di mana-mana, yang mengetahui segala sesuatu, Ia adalah saksi yang menjadi saksi segala perbuatan manusia. Karena itu manusia tidak dapat menyembunyikan segala perbuatannya terhadap Tuhan baik perbuatan itu perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk.
Di dalam kitab suci Manawadharmasastra agar hidup ini didasarkan atas dharma, ini berarti kita harus berpikir, berkata dan berbuat yang baik dan benar sehingga kita mendapatkan kerahayuan. Hanya dengan melaksanakan dharma orang mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Manu Smerti IV, 70 menyebutkan :
Adharmiko naro yo hi
yasya capyam rtam uhanam,
hingsaratas ca yo nityam
nehasau sukhamedate
artinya :
Seseorang yang tidak menjalankan dharma atau orang yang mendapatkan kekayaan dengan jalan curang dan orang yang suka menyakiti makhluk lain, tidak akan pernah berbahagia di dunia ini.
Agar tidak dikuasai oleh kecendrungan-kecendrungan sifat seperti disebutkan sloka di atas, kita harus berusaha mengendalikan diri dari guncangan-guncangan hati dari hal-hal yang tidak baik. Karena guncangan-guncangan itu semula ada dalam angan yang dikemas dalam bentuk keinginan. Setiap keinginan menuntut kepuasan pada obyeknya dan indriya merupakan salah satu alat untuk memenuhi keinginan itu. Bahkan tidak jarang orang mendapat celaka karena terlalu memenuhi keinginan indriyanya. Karena itu orang harus dapat mengendalikan indriyanya kearah yang positif, tentu hal seperti ini harus diikuti pula dengan beretika yang baik, yang etis dan tepat baik ditempat-tempat umum apalagi di daerah atau lokasi yang dianggap suci, misalnya dilokasi pura dengan harapan agar kita selalu mendapat kerahayuan. Di dalam kitab Sarasamuccaya 71 menyatakan demikian :
Nyang pajara waneh, indriya ikang sinanggah
suarga naraka, kramanya, yan kawasa
kahrtanya, ya ika saksat swarga ngaranya, yapwan
tan kawasa kahrtanya saksat naraka ika.
artinya :
Inilah yang patut saya ajarakan lagi, indryalah yang dianggap sorga dan neraka. Bila orang sanggup mengendalikannya, itu semata-mata sorga namanya, tetapi bila tidak sanggup mengendalikannya benar-benar nerakalah dia..
Upacara
Upacara, kata upacara berakar dari dua suku kata, yaitu upa dan cara. Upa artinya dekat atau mendekat. Dan cara berakar dari urat kata Car yang memiliki arti harmonis, seimbang, selaras. Upacara memiliki arti atau makna. Dengan keseimbangan, keharmonisan dan keselarasan dalam diri, kita mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, sebelum kita ingin mendekatkan diri kepadaNya, hendaknya terlebih dahulu kita dapat menciptakan keseimbangan dan keselarasan serta keharmonisan dalam diri kita, agar dapat terwujudnya keharmonisan dalam diri kita, agar dapat terwujudnya keharmonisan dengan Tuhan Yang Maha Esa / Ida Sanghyang Widhi Wasa. Karena kesempurnaan seseorang di dalam menjalankan ajaran-ajaran agamanya, bukanlah dinilai dari seringnya dia sembahyang atau mempersembahkan upacara atau upakara yang megah dan meriah saja, melainkan ketaquaan (baktinya) seseorang di dalam beragama di nilai sejauh mana mereka dapat merubah sikap, mental dan prilakunya sehari-hari menuju kebajikan-kebajikan sesuai dengan kaidah-kaidah ajaran agamanya. Dan dapat secara nyata diaktualisasikan dan divisualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, tentu semua ini tidak terlepas dari sikap dan mental melalui, etika, etiket, etik dan moral yang tinggi dengan ketulusan dan keikhlasan.
Karena seberapapun besarnya suatu upacara atau pun upakara yang dipersembahkan, tanpa dilandasi dengan hati yang suci serta ketulus ikhlasan, dan tanpa dibarengi dengan pemahaman akan makna dan tujuan dari yajna yang kita laksanakan sudah tentu tidak akan mendapatkan pahala sesuai yang kita harapkan, hanya akan memuaskan kesenangan panca indriya saja. Yang justru akan dapat menjerumuskan kita ke lembah kesengsaraan.
Kita dilahirkan sebagai manusia yang merupakan makhluk yang paling sempurna diantara tumbuh-tumbuhan dan hewan, sudah sepantasnya kita selalu berbuat baik yang di dalam ajaran agama Hindu telah dicantumkan dalam kita suci Sarasamuccaya yang bunyinya sebagai berikut :
Sebagai manusia sudah merupakan satu pahala, dan karena itu merupakan satu kesempatan bagi manusia untuk dapat memperbaiki dirinya dengan melebur atau mengalahkan perbuatan yang tidak baik dengan perbuatan yang baik selalu. Sebab menjadi manusia sungguh utama juga, karena itu, ia dapat menolong dirinya dari keadaan samsara dengan jalan karma yang baik ; demikian keistimewaan menjadi manusia itu. (Sarasamuccaya, sloka 4).
Dari kutipan sloka di atas adalah merupakan suatu pijakan bagi kita bahwa setiap tindakan kita selalu berbuat yang baik, berkata yang baik dan berpikir yang baik dan benar, itulah sebabnya suatu kode etik, moral sebagai insan yang beretika patut dijaga baik ditengah-tengah keluarga, masyarakat (Desa Pakraman dalam suatu pertemuan) maupun terhadap bangsa dan negara. Dengan memperhatikan judul makalah ini yaitu Etika Pada Upacara Piodalan di Pura Puseh maka penulis perlu mengemukakan tentang masalah etika, karena di samping terhadap sesama juga yang tidak kalah penting beretika di dalam memuja dan memuji kebesaran dari Hyang Widhi, baik melalui lantunan kidung suci maupun dalam bentuk persembahyangan atau melalui upacara sembahyang. Sudah barang tentu sebelum upacara dimaksud (upacara sembahyang) dimulai biasanya di dahului dengan pertemuan-pertemuan khusus oleh Desa Pekraman yang merumuskan tentang masalah piodalan di Pura Puseh melalui rapat Desa Adat untuk membahas upakara yadnya yang akan digelar, agar lebih tertib da lancar, dan ini bisanya dilakukan beberapa hari sebelum acara puncak dimulai.
Beberapa Ajaran Etika Dalam Kitab Suci Hindu
1. Weda
Segala yang ada ini tunduk pada rta. Demikian pula halnya dengan manusia, dengan mengikuti rta orang akan hidup harmonis dengan alam dan sesama manusia. Weda mengajarkan bahwa orang harus bakti kepada Tuhan. Di samping bukti kepada Tuhan orang harus memperhatikan orang lain, saling kasih mengasihi satu sama lain, sehingga hidup damai, hidup dalam suasana persahabatan. Kutipan berikut mencerminkan hal ini :
Mitrasya ma caksusa sarwani butani samiksantam
Mitrasya ham caksusa parwani butanisamikse
Mitrasya caksusa samiksamahe
(Ayur Veda, 26.2).
Terjemahan :
Semoga semua makhluk memandang kami dengan pandangan mata seorang sahabat.
Semoga saya memandang semua makhluk dengan pandangan mata seorang sahabat.
Semoga kami pandang memandang dengan pandangan mata seorang sahabat.
Dengan hidup bersahabat berarti orang harus kasih sayang kepada orang lain ; hormat kepada orang tua, menjauhi kebencian mendambakan kesatuan dan persatuan.
2. Etika Dalam Manusmerti
Manusmerti adalah salah satu kitab Dharmasastra yang terbaik. Di dalam kitab ini banyak terdapat ajaran etika, kitab ini mengajarkan agar hidup ini didasarkan atas dharma. Ini berarti kita harus berpikir, berkata dan berbuat yang baik dan benar, sehingga kita mendapatkan kerahayuan. Hanya dengan melaksanakan dharma orang mendapatkan kebahagiaan di dunia dan diakhirat, Manusmerti menyebutkan :
Adharmiko naro yo hi
yasya capyanrtam uhanam,
hingsaratas ca yo nityam
nehasan sukhamedate
Terjemahannya :
Seseorang yang tidak menjalankan dharma atau orang yang mendapatkan kekayaan dengan jalan curang dan orang yang suka menyakiti makhluk lain, tidak akan pernah bahagia di dunia ini.
Salah satu dharma kita yang amat mulai ialah hormat kepada ibu dan bapak. Demikian pula kepada ibu dan bapak guru di sekolah. Ibu dan bapaklah yang menyebabkan kita ada yang merawat dan membiayai hidup kita sejak kecil. Tiada kasih yang dapat menyamai kasih ibu. Lalu apakah yang kita pakai membalas jasa ibu ? hanya baktilah pesembahan kita kepada mereka. Dengan kita bakti mempersenang mereka dan ia akan memperbaiki kita.
3. Etika Dalam Mahabharata
Mahabharata adalah salah satu kitab Itihasa. Itihasa yang lain adalah Ramayana. Mahabratha mengajarkan supaya orang menaruh kasih sayang, rasa bersahabat, rasa simpati dan beritikad baik terhadap semua makhluk. Ini semuanya akan mengantarkan orang kepada kedamaian dan dengan kedamaian orang akan dapat mewujudkan kejesahteraan hidup, kebahagiaan, hidup sehat lahir bathin. Kutipan berikut menunjukkan hal ini.
Yadenyesam hitam masyat atmanah, karma purusam
Srapatrapeta wa yena tat kuryat katamcana
(Mahabharata)
Terjemahan :
Perbuatan yang tidak mengantarkan orang kepada kerahayuan, atau membawa malu kepada kita, jangnlah itu dilakukan kepada siapapun.
Sarwe bhawantu sukhimah
sarwe santu nirmayah
sarwe bhadrani pasyantu
ma kascid duh khabag bhawed
(Mahabharata)
Terjemahan :
Semoga semua bahagia
semoga semua sehat dan jujur
semoga semua menjumpai kebahagiaan
semoga tidak ada yang sengsara.
Dari beberapa kutipan sloka di atas, bila diperhatikan dan dimaknai dengan hati-hati, maka tujuannya sangat jelas bahwa hidup ini tidak terlepas dari karma dan bakti kita kepada Hyang Widhi juga terhadap orang tua maupun terhadap sesama manusia dan makhluk hidup lainnya.
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 24 November 2008 15:59 )