Ku persembahkan cerita ini buat Kakek Sirddi Baba
Rupanya roda kehidupan berputar menimpa dan mengharuskan orang ini menjadi seorang pengemis. Dulunya dia hidup seperti orang kebanyakan, ada keluarga dan diapun telah berkeluarga juga uang dan teman cukup banyak.
shirdhi-saibaba_02Pribadinyapun tidak jauh beda dengan orang yang ada disekitarnya. Diapun seorang pekerja disebuah perkantoran dengan gaji cukup memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Diapun cukup rajin sembahyang dan.....disuatu malam purnama sehabis sembahyang dia duduk termenung sambil memandang indahnya cahaya bulan. Tanpa sadar dia terserap kedalam dirinya..dia mulai tertidur ditempat itu juga. Alam mimpi mulai menghiasi tidur nyenyaknya, mimpi bertemu seorang teman yang sangat baik hati akhirnya dia berteman akrab. Setelah bangun dia merasa sangat senang sampai-sampai tersenyum sendirian.Istrinya bertanya ada apa sih senyum-senyum ?....dia jawab tadi saya mimpi bertemu orang namanya Si Bathin dia sangat baik hati ....sambil menatap lurus mengindahkan istrinya dia berkata" alangkah senangnya bersamamu wahai sobatku?" Selesai berkata diapun mempersiapkan diri untuk berangkat kerja.setahun kemudian perusahan tempatnya bekerja mulai bangkrut dia mendapat PHK. Diapun diberi uang pesangon dan uang ini dipakai modal kerja sendiri. Tiga tahun kemudian usahanya cukup maju pesat jelas uang semakin banyak, diapun mulai membeli mobil bekas. Mobilnya disewakan dengan harapan menambah penghasilan. Baru sebulan mobilnya dilarikan oleh si penyewa, dia mulai bingung dan sedikit mengalami depresi. Kemudian dilaporkanlah kepihak berwajib......dia kira dapat pelayanan gratis. Dia bayar sesuai ketentuan. Empat bulan telah berlalu mobil tetep hilang uangpun banyak habis.....usahanya mulai bangkrut. Penagih hutang mulai berdatangan....sekarang dia mulai sekarat ekonomi. Dia mulai meminjam lagi dia awali mendatangi keluarga dekatnya, uangpun diberikan. Bahkan sekarang keadaan tambah memburuk keluarganyapun terseret kelembah kemiskinan. Dia semakin kacau....mulai dia memutuskan untuk pergi berkelana entah cari kerja atau melakukan apa saja dia tak tahu pasti. Kebetulan hari telah malam dan malam ini malam purnama.....hatinya tersentak sebentar sambil mengumpat akan nasib buruk menimpa dirinya. Semalaman dia selalu menyesali akan kehidupannya, segala bentuk kekecewaan, kejengkelan, kemarahan, kesedihan kadang menyalahkan dirinya, menyalahkan orang lain, semuanya nampak sangat kacau. Istrinya hanya bisa menangis sambil berkata kita pergi sekarang saja saya malu berada disini. Akhirnya keduanya pergi berbekal perut kosong serta pakaian seadanya, mereka berjalan melewati medan penuh jurang dan tebing. Sambil berjalan dikegelapan malam perutnya semakin menuntut untuk makan. Kali ini mereka beruntung menemukan ladang ubi sebagai pengganjal perut kemudian mereka tertidur.
Indahnya sinar mentari pagi diiringi merdunya nyanyian burung menemani bangun pagi mereka. Sesaat mereka merasa kesegaran dan kenyamanan...dan tak lama kemudian seiring waktu suasana nampaknya kembali seperti semula wajah serta hati mereka kembali dirundung kesedihan. Merekapun melanjutkan perjalanan kembali sambil berpasrah diri dan dalam tanda kutip mereka dipaksa alam atau tanpa sengaja melupakan hubungan suami istri (awal penyucian diri) mereka hanya mengikuti kemanapun sang kaki melangkah. Yang namanya nasib lagi apes apapun dilakukan rasanya tak banyak membantunya. Sekaligus tanpa mereka sadari ini adalah awal perjalanan spiritual mereka. Setiap melangkahkan kaki, mereka menoleh kedalam sang bathin, setiap langkah mereka menghayati kehidupan. Perjalanan kali ini lebih banyak perenungan diri sambil mereka menghibur dirinya.....hanya alam menjadi sahabat sejatinya dalam  menempuh perjalanan jauh ini. Hampir sebulan perjalanan telah dilaluinya dan selama itu pula alam telah mengisi pikiran dan bathin mereka dengan pengetahuan agung. Perjalanan terus dilanjutkan, mereka rupanya telah sampai di kota kecil yang sangat jauh dari tempat tinggal lamanya. Dengan wajah lusuh pakaian dekil memasuki kota kecil. Dalam benaknya berkata" dari sini aku akan mengawali kehidupanku kembali, aku tak perduli akan identitasku" .....belum selesai mengungkapkan keinginannya tiba-tiba seseorang menyodorkan uang recehan sambil berkata sinis : kerja dong !! jangan mengemis? orang itu lalu pergi, pergi bersama urusannya sendiri. Mereka tertegun saling menatap: kita pengemis? istrinya mengerutu lalu sang suami tersenyum menjawab apapun sebutan buat kita semua ini kehendak alam kita terima saja. Sambil terus berjalan, hendak cari kerja dan begitu ingin menanyakan pada orang-orang ......ternyata sambutnya diluar perkiraan mereka, mereka dipandang tak layak kerja, mereka sudah dicap pengemis. Kembali yang jadi masalah adalah sang perut, mereka mulai merasa haus dan lapar namun masih malu meminta-minta. Karena tak tahan melihat istrinya iapun mendekati sebuah warung hendak minta seteguk air  sana. Dia tak tahu bahwa si pemilik warung mengalami kerugian besar hari ini. Begitu masuk belum sempat bicara, ibu pemilik warung langsung marah-marah menghujatnya....kepalanya tertunduk malu, hati panas dan marah bercampur aduk menerima cercaan itu sambil berkata dalam hatinya" kenapa aku seperti ini? apa salahku? sambil pergi ketempat lain dia terus mengamati perasaan bathinnya. Sampailah dia di sebuah pertokoan, dia lihat banyak orang belanja disana ...lagi rasa malu menginggapinya, dia tinggalkan tempat itu dicarinya tempat lain. Sambil menarik nafas dalam-dalam dia cetuskan dirinya sebagai pengemis saja. Berulang kali dia harus menguatkan tekadnya ini melawan keegoaannya, ego yang terbentuk dari perasaan malu. Dia mulai memasrahkan diri dan secara tak sadar dalam keadaan begini tangannyapun tengadah hendak memohon jalan kepada Tuhan....dan tangannyapun telah berisi cukup uang. Saat memohon pikiran terfokus kepada Tuhan mengabaikan tangannya meminta dan mengemis. Akhirnya rasa malu tak dirasa lagi dia melanjutkan status pengemisnya sekarang dia seorang pengemis.
Hari-haripun mulai berubah setiap hari dia hanya mengemis dan mengemis. Cercaan hinaan yang mengundang kemarahan, rasa malu dan kelangsungan hidupnya tak lagi jadi beban bagi dirinya. Dia punya rahasia tersendiri untuk  mengemis namun sampai saat ini dia belum sadar dibalik tindakkannya. Sambil mengemis dia selalu mengarahkan perhatiannya kedalam sehingga segala cercaan dan hinaan seolah tak ada baginya. Saat istirahat diruang terbuka dia ditemani alam dengan langit biru dimalam hari hanya berteman istri dan bintang dilangit. Beginilah sekarang kehidupannya, siang hari dia adalah pengemis dan setiap malam hari sebelum tidur dia merenungi serta  mengamati reaksi bathinnya. Entah berapa lama sudah kegiatan ini dilakoninya  akhirnya dalam suatu malam bulan pun tak muncul ini adalah bulan mati ini adalah hari Siwa Ratri. Seperti biasa dia merenung tentang kehidupannya, tentang nasibnya, tentang dirinya tentang bathinnya dan malam ini secara tak sengaja renungannya lepas kendali merenungi kearifan dan keagungan Tuhan. Dia melupakan akan keadaannya sekarang ini seluruh bathin dan pikirannya terserap bahagia ke alam yang sangat tinggi kealam Tuhan. Antara tidur dan terjaga dia didatangi teman lamanya yaitu Si Bathin yang wajah dan gayanya sama persis seperti kejadian masa lalu dimasa jayanya. Dia kegirangan menyambut teman di mimpinya dulu ..sambil berkata : Hai, Bathin kenapa kamu baru datang ? kenapa lupa sama aku? Si Bathin tersenyum lembut mendekap dirinya dan berkata: selama ini aku selalu bersamamu menemanimu kemana saja dan ikut melakukan serta mengalami apapun yang kamu alami. Si Pengemis melotot kaget, kamu bohong !! seingatku hanya bersama istriku mengalami semua penderitaan ini kamu ada dimana kenapa aku tak melihatmu? Si Bathin tersenyum manis sambil membelai lembut dirinya, dia hanya menatap Si Bathin sambil merasakan pancaran kasih temannya ini dia terdiam sambil ikut tersenyum bahagia. Lihatlah diriku baik-baik temanku, saudaraku aku adalah dirimu aku ada karena kamu dan kamu ada karena keberadaanKu, aku berdiam didalam dirimu didalam hatimu Aku adalah pikiranmu, jiwamu atau bathinmu. Si Pengemis heran melihat wajah Si Bathin sama dengan dirinya demikian juga suara dan geraknya sama persis. Si Pengemis bertanya lagi kalau memang kau selalu bersamaku kenapa tidak menolongku? apakah gunanya teman atau saudara kalau tak mau menolong? kenapa kau biarkan saudaramu ini menderita seperti ini? sedangkan aku lihat dirimu nampaknya sangat bahagia, pakaianmu sangat bagus menurut perkiraanku kau pastilah orang kaya. Kenapa kau datang disaat aku tak berdaya? Si Bathin menjulurkan tangan lembutnya sembari menutup mulut Si Pengemis dan berkata hari ini aku muncul karena engkau telah mampu membebaskan diriKu. Apakah selama ini kau dipenjara atau disekap?  kapan aku membebaskan diriMu? ya..selama ini aku disekap oleh keegoanmu, nafsu serta ahamkaramu sambil Si Bathin mengarahkan pandangannya ke atas memandang langit bersih melanjutkan perkataannya: hmm ..wajarlah pertanyaanmu itu karena selama ini kau tak pernah mendalami atau mempelajari pengetahuan siapa dirimu kenapa kamu ada dan untuk apa kamu lahir. tapi baiklah lihatlah langit biru diatas sana dia nampak biru bukan? sesungguhnya itu bukan warna biru tapi karena begitu luasnya matamu tak sanggup melihatnya karena matamu sangat terbatas. Itu yang disebut ruang angkasa itu adalah rumahku sekaligus tubuhKu, lihatlah matahari itu...itulah mataku, pergerakan dan gumpalan awan-awan putih adalah pikiranKu, angin berhembus ini tak lain adalah nafasKu, bumi yang kau pijak ini adalah kakiKu sekarang arahkan perhatianmu kearah utara dan selatan itu merupakan sisi  kanan dan kiri tubuhKu lihatlah ketimur itulah kepalaKu dan barat adalah punggungKu dan sekarang lihatlah segala bentuk dan suara disekitarmu itu semua berada didalam diriku yang membentuk tubuhKu. Lihat juga dikegelapan ini suara jengkrik, lolongan anjing dan suara binatang lainnya baik menyeramkan atau tidak itulah ke-gaib-anKu, Bulan adalah kesadaranku, taburan bintang-bintang adalah bentuk energiKu, rerumputan itulah bulu-bulu ditubuhKu, sungai itu aliran darahku, suara gaib Si bathin terus berucap dan Si Pengemis tak lagi melihat Si bathin disampingnya iapun berteriak hai bathin dimana kau kenapa hanya suaramu saja terdengar.....suara Si Bathin bertambah gaung memenuhi semesta, wahai saudaraKu inilah diriKu carilah aku didalam dirimu mulai sekarang Aku pasti menolongmu. Panggilah Aku, Aku adalah suara hatimu dan semasih berjalan dijalan kebaikan aku pasti datang menolongmu......hari ini aku bermurah hati padamu karena malam ini Aku beryoga didalam dirimu ...ketahuilah malam ini adalah hari keramatKu ...malam Siwa Ratri  dan kau telah kubebaskan penderitaanmu mulai besok ajarilah setiap manusia untuk berbuat baik dan ajaklah mereka menjalani hidupnya berdasarkan kehendak bathinnya....setelah kau terbangun....kau adalah orang suci ...kau memiliki kekuatan dan ke-Agungan kau dipuja oleh semua orang ......suarapun lenyap.
Haripun telah pagi istrinya tertidur dipangkuannya, dia membangunkan istrinya dengan lembut sambil berkata istriku sekarang kita lanjutkan perjalanan mengemis lagi tapi kali ini kita mengemis pada Yang Kuasa.